Kamis, 24 Oktober 2013

Saputan Pelangi di Rintik Hujan


Lagi-lagi tentang hujan. Apakah hujan menahanku sejenak? Apakah hujan yang turun melukiskan cerita ini? Seperti pelangi yang hadir sesudah hujan, indah. Tapi apakah saputan warna –warna itu tak boleh mewarnai lagi? Membeku dalam diam, cukup seperti itu saja.
Semua tak ada yang kebetulan. Bahkan hal yang paling kebetulan sekalipun. Semua karena rencana Allah terlalu megah untuk kita pahami. Sejatinya semua yang kita rencanakan dengan sebaik mungkin, tapi kita harus menyadari.” Allah yang maha memiliki rencana yang sangat indah”.  Ketika satu hal yang kita rencanakan tapi bukan seperti cerita yang ingin kita tuliskan. Sebenarnya ada hikmah dibalik itu semua, dan maknai lah, bahwa Allah sedang mempersiapkan cerita untuk kita.
Hujan turun menahanku. menghadapNya.
Aku tahu, aku tak berhak melukiskan lagi saputan warna pelangi. Bukankah ini anugerah dari Nya?
hmm, entahlah. Aku tak bisa menjelaskannya, aku tak bisa memahaminya. Mungkin ini hanya kekagumanku saja. Padamu yang berjalan dijalanNya. Setidaknya itu harapanku.
Apakah ini sebuah bentuk titian ujian dariNya?. Sejujurnya begitu berat, sangat berat. Tak pernah sedikitpun terlintas diotakku. Semua karena ada damai yang kutemukan dijalan ini, ada ketulusan yang selalu kurindukan dijalan ini, ada banyak pemahaman baik yang mampu membuatku kembali memaknai  mozaik kehidupan ini. Aku kembali berkaca dalam lubuk hatiku, ah. Aku masih jauh, sangat, sangat jauh dari baik. banyak hal yang harus kuperbaiki, kupahami lagi. Aku malu padaNya, aku malu pada diriku sendiri.
Aku tak ingin semua menjadi sia-sia jika sedetak hatiku salah memaknai jalan ini. Mampukah aku tetap seperti semula? Mungkin ini sebuah proses untuk meletakkannya ditempat yang paling sederhana dihati, membuat lengah dan tak waspada walaupun sebenarnya tak kan pernah terlupakan.
Sejuknya tetesan-tetesan air mengaliri wajahku, tanganku, kakiku. MenghadapNya.
Aku malu dengan sepersekian detik tatapan ku yang tak sengaja. Aku malu, aku sungguh-sungguh sangat-sangat malu.
Semoga semua tetap seperti semula. Semoga dan semoga. Semoga ini bukanlah ujian yang melapukkan langkahku, aku belum pantas berharap, aku malu berharap, aku malu.
Tak ada yang mampu menyingkap rahasia besar itu, serahkan semua pada Nya, pada yang Maha Mengatur. Semua perputaran waktu? Apakah diperputaran waktu semua akan tetap ada atau akan berlalu begitu saja. Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati. Tetapkan hatiku dijalanMu. Jika dia bukanlah yang tertulis untukku, maka damaikanlah hatiku dengan ketentuanmu. Sehelai daunpun tak akan gugur tanpa izin dariMu, apalagi tentang detak waktuku.
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada padaNya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada didarat dan dilaut. Tidak ada sehelai daunpun yang gugur yang tidak diketahuiNya. Tidak ada sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am : 59)

Bukittinggi, 24 Oktober 2013
Rintik hujan, saputan pelangi, kepingan mozaik kehidupan.

Rabu, 23 Oktober 2013

Ma, Ajarkan Aku Untuk Meletakkan Sesuatu Juga Dengan Penilaian Hati


Inilah perjalanan. perjalanan ini bukan tanpa alasan. Semua alasan tertulis dengan sangat jelas. "Ibadah padaNya". Disetiap detik perjalanan ini akan ada hal-hal yang harus dikerjakan dan diselesaikan. jangan hanya sampai pada tahap itu saja. belajarlah untuk mengikhlaskan niat juga untuk "beribadah padaNya".

Terkadang diperjalanan ini ada hal yang terlihat sulit, tapi mungkin untuk dilakukan. Optimis dan percaya dengan proses. Semua butuh proses untuk bisa mencapai tujuan. Bukankah Pedang yang tajam ditempa pada suhu yang sangat ekstrem?. Bukankah mutiara yang mahal penuh perjuangan dari kerang yang bertahan dalam kesakitan?. 

"ketahuilah nak, Hal yang paling sulit untuk ditaklukkan adalah diri sendiri". pasan mandeh. Ya ma, iyi akan mengingatnya ma.
pada diri saya selalu saja ada defense. Saya mencoba berpikir, sampai kapan harus defense yi?. maka kompetisi yang sebenarnya itu adalah dengan diri sendiri dan waktu yang kita punya. ya, itulah kompetisi yang sebenarnya, tidak hanya dalam hal pelajaran dikampus, disekolah tapi juga dalam setiap detik perjalanan kehidupan kita. ketika seorang kakak membacakan pesan kepada saya "tugas yang kita punya lebih banyak dari pada waktu yang kita miliki". hmm.. saya masih saja belum menggunakan waktu dengan baik. belajarlah, belajarlah untuk berproses.

Man Jadda wa jada. siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. saya sangat suka dengan kata-kata ini. keberuntungan itu mungkin ada karena keberuntungan itu adalah ketika persiapan bertemu dengan kesempatan. Maka persiapkanlah sebaik mugkin.

Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, semoga kita juga bisa berproses untuk bisa bermanfaat untuk orang lain, tapi ayooo belajar berproses untuk mengikhlaskan niat hanya padaNya. Ma, ajarkan selalu anakmu untuk selalu bersyukur padaNya, meletakkan sesuatu dengan penilaian hati, tak berambisi dengan pandangan orang lain, dan selalu berproses untuk mengikhlaskan hati hanya dan hanya karenaNya. 

Semangat berproses. Percayalah semua dimulai dengan doa, disertai dengan doa, dan doa kedua orang tua menjadi yang lebih utama. 

Bukittinggi. 23 Oktober 2013. 23:17 WIB. 
*meletakkan sesuatu dengan penilaian hati.

Senin, 07 Oktober 2013

Jilbab (Bincang-bincang bareng FORSIS Bukittinggi FIP UNP)

ketika berjilbab saya takut dipandang "orang yang sangat baik" padahal nyatanya saya tidak sebaik itu | tapi berdoalah "Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari yang mereka sangkakan".
ketika memutuskan berjilbab saya takut sahabat-sahabat saya akan menjauhi saya dan berubah kepada saya | percayalah, sahabat sejati adalah sahabat yang mengingatkan dalam kebaikan dan sahabat sejati akan berusaha memahamimu, bahkan kamu yang akan sama-sama berjalan bersamanya dalam proses kebaikan.
mungkin banyak alasan-alasan lainnya yang menghalangi kita untuk berjilbab, tapi dengan selalu berusaha mempunyai pemahaman yang baik, seiring berjalannya waktu kita akan memahaminya.
Tidak hanya kita yang menjaga jilbab itu, "tapi jilbab itu juga menjaga kita", menjadi sebuah alarm disaat hati mulai lalai, menjadi identitas kita sebagai seorang muslimah yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah.
Jika ada setitik kebaikan, maka maknailah, tapi jika menemukan kekurangan dan hal-hal yang tidak pantas, maka itu murni karena saya, teman-teman semua, belajar tertatih untuk berjalan dijalanNya, belajar untuk berproses, maka jangan disalahkan jilbabnya.
terimakasih untuk sahabat2 keluarga forsis bukittinggi.
semoga hati hati kita selalu tetap belajar untuk istiqomah dijalanNya
selalu mengingatkan dalam kebaikan. selalu menjadi penawar disaat hati terasa kosong dan lalai dalam mengingatNya.
Bukittinggi, 7 Oktober 2013
Ruang seminar PGSD
#FORSISBKTFIPUNP
#BINCANG2FORSIS 

Selasa, 17 September 2013

Hujan, (Hujan Bagiku)


Hujaaaaannn, hujaaaaannnn...
Hujan selalu setia menyapa disetiap langkahku menuju pulang, menemani dengan hangatnya senyuman, kau tau, aku pernah membenci hujan, walaupun hujan menyimpan rapi setiap kepingan kenangan, hujan sesuatu yang ku benci tapi kadang ku rindu tapi sekarang aku berusaha untuk tidak membenci hujan, karena setelah aku tau, makna bersyukur padaMU, disana ada banyak orang yang merindukan hujan, hujan dariMu. 
Ampuni hamba yang masih saja tak pandai bersyukur padaMu ya ALLAH.

Kerinduan (Semoga Tetap Merindu)


Aku ingin bertanya padamu kawan…
adakah yang membuatmu merasa jauh dariku?
apakah luapan emosi negatif membuat kita menyisakan goresan dihati?
tapi sejenak detik terhenti, kamu menghampiriku dan berkata “maafkan aku, aku tahu kamu takkan salah paham, itu bukan aku, semua hanya aku sedikit kesulitan dalam mengatasi stressor-stresor ini.”
adakah kau temukan aku bukanlah aku yang kau kenal dengan sangat baik, seperti dahulu?
apakah aku melangkah menjauhi posisimu?
atau mungkinkah kita berjalan melewati arah yang berbeda?
waktu memang tak pernah bisa berhenti kawan
dan apakah semua terlarut bersama waktu?
jika memang waktu bisa sembuhkan setiap luka, apakah waktu juga mampu mengubur semua?
aku hanya merasa, bukan terbawa dengan semua kenangan kita dulu, setidaknya begitu yang aku inginkan…
tapi… butiran-butiran bening itu membuatku tak mampu membohongi semua, sejujurnya aku merindukan kita yang dulu…
langit ini masih sama kawan, angin ini juga angin yang sama, hujan ini juga hujan yang sama,,jalan ini juga jalan yang sama,,hanya aku yang merasa semua sangat jauh berbeda kawan.
aku takut terlalu bahagia bersamamu dan aku takut menyimpan semua kenangan indah ini dengan terlalu rapi karena aku akan mati dan terbunuh dengan kerinduanku saat aku terjaga dan menyadari, kadang waktu tak hanya menyembuhkan setiap luka, tapi juga semua cerita kita terlarut bersamanya…
aku selalu berdoa semoga aku masih mempunyai kesempatan yang sama,menemui mu didimensi kerinduanku dan kerinduanmu tentang cerita kita.
tumpahkan kerinduanmu dibahuku dan kita terisak bersama menyadari bahwa kita benar-benar merindukan hal yang sama…

Cermin (memaknai kembali)


"Cermin" saya membaca sebuah catatan Fahd Djibran dibukunya curhat setan. Entahlah, apakah saya memaknainya dengan benar, tapi dari catatan itu ada hal yang tak terlupakan, ada hal yang bermakna, yaaa,, "ilmu tentang batas". Dia akan hadir seperti cermin, cerminan dari dirimu. 
kita seringkali bertanya-tanya "siapakah kau?" tapi sebenarnya dia disana juga sedang mempertanyakan hal yang sebenarnya sama "uak hakapais?" dan kita bertanya-tanya apa yang ada dibalik cermin itu? hmm, kenapa kita hanya bisa menatap cermin dalam diam, kenapa antara kita dan seseorang yang didalam cermin ada batas, bagaimana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlontar kita menembus batas itu? tapi, ketika kita memaksa untuk menembus batas, malah cermin itu menjadi pecah, bukan jawaban yang kita dapatkan tapi malah luka akibat pecahan cermin. 
yups, saya juga bukan malaikat yang bebas dari getaran-getaran hati, tapi dengan memahami makna "batas" semoga kita kembali memaknai dalam menyikapi luapan emosi, batas membuat kita belajar untuk memaknai, batas membuat kita tetap berdiri diposisi kita masing-masing, tetap menjadi sahabat yang baik, tetap dengan tawa dan cerita-cerita kita, seperti apa adanya. 
yaa,, tidak menembus batas, hingga kita tau, akan ada jawaban dariNya. yaaa,, seiring berjalannya waktu maka kita kan menemukan jawabannya, tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, hingga ada syukur, bahwa dengan tetap berada diposisi kita masing-masing itu adalah yang terbaik, tidak ada luka, tidak ada hati yang pecah, dan tidak ada kehilangan dimensi untuk memaknai, walaupun terkadang ini terlalu mengejutkan dan saya berujar,, rencana ALLAH selalu sempurna.

Selasa, 03 September 2013

kesedihan terdalam

Ditumpukan tanah merah
Tatapan tersedihmu
Hanya bisa mendengarkanmu
Menyusun setiap kenangan
            Harum mawar masih segar
            Sesegar ingatanmu
            Dan hatiku bergetar
            Setiap kau mengucapkan
            “ibu, terlalu cepat bu..”
            Air mataku tertahan
            Jangan basahi lagi
Kita duduk disamping tumpukan tanah merah
Menekurkan kepala dan melafazkan doa

                              Padang, 16 Agustus 2013

*semoga kamu melewati detik kesedihan terdalammu dengan mendekatkan diri padaNya,, aku menyayangimu.