Sabtu, 26 April 2014

Rindu

Doa, yang selalu menjadi jalan buntu
Tak ada lorong untuk lari dari mengingatmu
Tapi rindu adalah malu
Biarkan tersimpan dalam qolbu.
Hingga kelak takdir menjamu dalam temu
Untukmu,,
Semoga sukses..
Dan selamat menjawab pertanyaan selanjutnya
Pertanyaanku Insya Allah aka nada jawabnya
Walaupun..
Walaupun jawaban itu bukan tentangmu, bukan darimu..
Bukankah sehelai daunpun tak akan gugur tanpa izin dariNya?
Ikhlaskan..
*catatan ini terinspirasi dari sebuah puisi yang saya baca.
Semoga mampu dimaknai..
Luapan emosi..
Atau mungkin karena “hanya imajinasi”
Sudahlah.. semoga bermanfaat.. 

Firman Persaudaraan

Ukhtiku sayang..
kubaca firman-Nya "sungguh tiap mukmin bersaudara"
ku baca firman persaudaraan..
Pada hari dikala yang lain diancamkan "para kekasih pada hari itu, sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa."
alangkah indahnya saat kau ucapkan padaku
"aku mencintaimu karena Allah, dalam dekapan ukhuwah"
ukhtiku sayang..
jika kita merasa bahwa segala yang disekitar kita gelap dan pekat
tidakkah kita curiga, mungkin, kitalah yang dikirm oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka?
ukhtiku sayang..
memang dakwah tak hanya disini..
tapi pandanglah lagi..
jejak-jejak langkah yang mulai kau susun dari awal.. disini..
ukhtiku sayang..
jika semangat itu mulai padam
tataplah mereka..
sebab, sinarmulah yang mereka nantikan
maka berkilaulah..

firman persaudaraan, ust Salim A Fillah dengan perubahan seperlunya.

*semoga catatan ini mampu mengingatkan kita saat kaki melangkah menjauh, saat hati mulai melalaikan..
terimakasih untuk sebuah dekapan ukhuwah ukhti...
mudah-mudahan saat itu datang, dimana kita tak lagi hanya menerima manfaat dari dakwah tapi juga mampu memberi semampu kita untuk dakwah..
sebenarnya bukan memberi untuk dakwah, tetapi menerima lebih dari dakwah..
bukan dakwah yang butuh kita, tapi kita yang butuh dakwah
ada atau tanpa ada kita, dakwah akan tetap berjalan..
rasanya diri ini tak pantas untuk menyampaikannya, tapi jika sebuah kepantasan yang kita tunggu maka waktu itu tak akan pernah ada.
mari kita sama-sama belajar untuk saling menguatkan, saling memperbaiki diri..
ingatkan aku, jika aku melangkah menjauh, jika aku mulai lalai..
akankah aku akan istiqomah?
maka jawabannya adalah dengan selalu belajar istiqomah, istiqomah, istiqomah dan seterusnya..
"YA Allah, janganlah Engkau sesatkan hatiku setelah Engkau beri aku petunjuk".

Ayah, hari ini 5 April 2014

Kehidupan dunia hanya sekejap

Rasulullah SAW menyampaikan
"demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya
tidaklah perumpamaan dunia kecuali seperti seorang pengembara yang lewat pada suatu hari yang panas.
Lantas, dia berteduh dibawah pohon untuk beberapa saat dari teknik siang hari.
Kemudian, panas itu hilang dan diapun meninggalkannya"
HR Ahmad dalam musnadnya 1/301, hakim dalam mustadrak 4/344, Ibnu Hibban dalam shahihnya 14/365, Abu Yalda dalam musnadnya 9/195

Ayah, hari ini 5 April 2014..
tepat 60 tahun yang lalu ayah menatap dunia..
aku masih ingat yah..
setahun yang lalu aku masih menyalami Ayah, lalu kita bercerita panjang lebar.
Tak ada yang istimewa disetiap ulang tahun dirumah kita (itu karena semua sudah sangat istimewa yah)
lalu kita berdiskusi, lebih tepatnya ayah lebih banyak mendengar aku yang selalu cerewet.

Ayah, aku masih ingat saat ayah mengatakan tahun lalu..
"umur dunia kita semakin menjauh
umur akhirat semakin mendekat.."

Ayah..
ini hanya tentang waktu, dunia ini hanya sementara..
akupun tak pernah tahu kapan umur akhirat akan menjemput
tapi mudah-mudahan aku selalu ingat yah
untuk mempersiapkan bekal diperjalanan selanjutnya..
perjalanan yang tiada akhir..

Ayah..
terimakasih untuk cinta yang tak terbatas dan tak berbalas..
jika ditanya tentang hati..
hati ini tak mampu mendefenisikan rasa kehilangan Ayah..
sangat, sangat kehilangan Ayah..
sangat, sangat terseok-seok melewati setiap detail kenangan indah dan sempurna bersama Ayah
Ayah, Ilham menulis tentang Ayah, diam-diam ku baca tulisannya..

Ayah..
maafkan aku, jika aku tak sengaja membuat ayah sedih.
Ayah..
sampai jumpa didimensi rahasia
yang meluruhkan setiap keping-keping rindu
menghapuskan setiap bulir-bulir kesedihan..

Bukittinggi, 5 April 2014
Ayah..

Dimensi Rahasia

Ayah..
ada rindu dalam hatiku
tapi bukankah semua adalah yang terbaik dariNya
Ayah..
bukankah kita selalu bertemu, didimensi rahasia
Doa..
meluruhkan setiap keping-keping rindu
menghapuskan setiap bulir-bulir kesedihan..
Ayah..
bukankah teduhnya tatapmu
selalu mampu kutemukan disetiap kedalaman hatiku
tak ada yang pergi dari hati
tak ada yang hilang dari kenangan
kita hanya terpisah jarak, ruang dan waktu
namun selalu ada doa untuk bertemu..
jika hujan mengaliri rindu..
semoga kelak takdir bermuara dalam temu disurgaNya..
aamiin..

*selasa untuk kesekian kalinya

Dihatiku

Ayah..
apakah kepergian Ayah membentur kepingan kesedihan terdalam dihatiku?
aku merindukan Ayah..
tapi telaga air mataku seakan telah mengering..
Ayah..
aku selalu merasa ayah ada disampingku
disetiap waktuku pulang
aku selalu bisa menatap senyum ayah
aku selalu menemukan wajah ayah
Ayah..
aku selalu memnyimpan rapi semangat dari Ayah
untuk mencapai harapan-harapan yang biasa Ayah diskusikan bersamaku.
Ayah..
Ayah semakin dekat, semakin nyata, dihatiku..
Ayah..
Ayah adalah ayah terbaik
Ayah hadir disetiap detik waktu ditahap hidupku..

*selalu ada senyum Ayah disetiap langkahku pulang
Ayah, aku menyayangi Ayah lebih dari yang ku tahu
Ayah, aku mencintaimu Ayah lebih dari yang ku tahu


Memaafkan

ingatlah pula suatu ketika ketika dua bendera berkibar di gunung Abu Qubais. di atas untanya Sang Nabi duduk dengan kepala tertunduk, "Fasabbih Bihamdi Rabbika wastaghfirh.." matanya menitikkan bening yang syahdu. Allah memenangkannya hari ini. dan kedua bendera itu berkibar. 

disalah satu sayap ada Sa'd ibn 'Ubadah, membusungkan dada dengan penuh kebanggaan. tatapan matanya tajam berkilat. hari ini, dengan keislamannya, ia merasa mulia dihadapan Makkah yang tiba2 terasa kecil dan takluk pada wadya Madinah yang dipimpinnya. "hari ini adalah hari menangnya kebenaran dan hancurnya kebatilan," katanya. Bendera yang dihela tangan kanannya mengembang, tegak, dan gagah. Bendera yang berdarah-darah melindungi risalah, membela persaudaraan, dan kini mengantarkannya pada sebuah kemenangan: Bendera Anshar.

Pada sayap yang lain, Az-Zubair ibn Al'-Awwam tegak khidmat diatas kudanya. berjuta rasa berkecamuk di dadanya. Pada Makkah, kota dengan selaksa kenangan baginya. Bayangan kanak-kanaknya yang penuh tawa berselebat dgn bayangan darah dan air mata saat ia dan sejawatnya menegakkan Islam pertama kali disana, dititik itu yang kini sedang ditatapnya berkaca-kaca, di dekat ka'bah yang mulia. Bendera yang dipegangnya meliuk-liuk rindu, bergetar oleh angin nostalgi yang tak terkatakan. bendera itu, bendera yang menyertai Nabi sejak mula dia didustakan kaumnya, bendera yang terusir dari tanah yang dicintainya : kaum Muhajirin.

Ketika akhirnya Makkah jatuh, kedua bendera itu menyatu gagah didepan ka'bah, dan sang Rasul berdiri dihadapan warga Quraisy yang harap-harap cemas. Quraisy kalah. Mereka takluk. Getir sekali. Mereka meringkuk dalam tekanan perasaan yang amat pahit. "wahai segenap Quraisy!" ucap Sang Nabi dalam wajah yang amat teduh, "Apa yang akan kulakukan pada kalian menurut sangkaan dalam hati kalian?"

sejenak bayangan penindasan, penyiksaan, kekejaman, pembunuhan, boikot, pengusiran, caci-maki, penghinaan dan segala luka yang mereka timpakan kepada Muhammad beserta pengikutnya bertahun-tahun lalu berselebat dibenak tiap orang Quraisy. Ya, apa yang akan dilakukan Muhammad? kini dia menang dan mereka semua ada dalam genggamannya

Hari ini, seperti kata Sa'd ibn 'Ubadah, bisa menjadi hari dihalalkannya yang haram dan bebasnya pembalasan dendam.

"tindakan yang baik dalam prasangka baik" Suhail ibn 'Amar sang duta Hudaibiyah memberanikan diri menjawab sang nabi
"sebab engkau adalah saudara kami yang mulia, putra saudara kami yang mulia."

Sang Nabi tersenyum. "Pergilah!" ujarnya syahdu, "Kalian semua bebas."

*Dalam Dekapan UKhuwah oleh Sallim A Fillah


Rasulullah,, selalu mampu menyentuh dengan keagungan akhlak. 
belajarlah selalu untuk memaafkan yi..
memaafkan, "kita naik ketingkat yang lebih tinggi ketika kita memperlakukan orang lain lebih baik daripada cara mereka memperlakukan kita" 

Bolehkah Aku Berharap?

selesai sholat shubuh berjamaah, Rasulullah SAW menghadap jemaah dan bertanya "siapakah orang yang paling menakjubkan imannya?"
ada sahabat yang menjawab "Malaikat"
sahabat yang lain menyebut "para nabiNya"
ada juga yang berpendapat "sahabatmu ya Rasulullah" 
semua jawaban tersebut ternyata salah
lalu siapa mereka?
Rasulullah menjawab "kaum yang sesudah kalian. mereka membenarkan aku, padahal mereka tidak pernah menyaksikan aku. mereka menemukan tulisan (Al-Quran dan Hadist) dan beriman. mereka mengamalkan apa yang ada dalam tulisan itu. mereka membelaku seperti kalian membelaku. alangkah inginnya aku bertemu dengan mereka"

kutipan dari buku Betapa Rasulullah merindukanmu penulis : Abdullah F. Hasan.

mengenalmu ya Rasulullah, aku malu, aku malu, aku belum mampu untuk mengenalmu, bagaimana cinta akan tumbuh dihatiku, bagaimana aku akan mengikuti keteladananmu, bagaimana aku mampu merindumu, bagaimana aku akan belajar untuk mencintaimu.
tidak terlalu penting apakah kita mencintai, tapi yang jauh lebih penting adalah bahwa kita dicintai.
ya Rasulullah, tak diragukan lagi cintamu pada ku, pada ummatmu
yaa,, yi, pantaskan diri untuk cinta dari Rasulullah..
pantaskan diri, pantaskan diri, pantaskan diri
istiqomah, istiqomah, istiqomah...
aamiin..