Sabtu, 13 Desember 2014

Memaknai Kesempatan, Bersyukurlah Ri

Seringkali kita kagum pada diri sendiri ketika menjalani sebuah pengalaman yang (menurut kita) keren, misalnya bekerja di perusahaan terkenal, kuliah dikampus ternama, ikut olimpiade sains, sebagai delegasi antar negara, bertemu dengan orang-orang hebat.

Selamat, selamat atas perasaan yang mengharu biru.

Tapi, letakkan lagi perasaan itu ditempat yang tepat. Bukan bangga tapi bersyukurlah, bersyukur atas kesempatan yang Allah berikan.

Yaa, semua tentang KESEMPATAN, semua itu bukan murni karena kemampuanmu atau perjuanganmu tapi karena Allah mengizinkanmu, memilihmu untuk berada disana.

Yaa.. bersyukurlah, bersyukurlah.

Mungkin diluar sana begitu banyak orang yang lebih baik kemampuannya darimu, tapi Allah memberimu kesempatan.

Nah, saya pernah membaca, katanya keberuntungan itu adalah ketika persiapan bertemu dengan kesempatan.

Usaha agar kamu punya banyak persiapan
Berdoa agar Allah memberimu kesempatan sehingga persiapan bertemu kesempatan, kamu menjadi orang yang beruntung.

Ri, teruslah belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Ri, semoga Allah memberi kesempatan dan jika kamu menjalani kesempatan hebat tersebut, bersyukurlah

Bersyukurlah kepada Allah, dan selalu memohon ampun padaNya, karena aku takut jika ada debu-debu kesombongan yang menyelinap keruang-ruang hatimu.


Padang, 13 Desember 2014
Semoga ketika kesempatan itu tiba, ku mau kamu membaca tulisan ini lagi Ri, agar aku selalu bisa mengingatkanmu tentang memaknai kesempatan. 

Tersenyumlah Ri..

Jika dengan senyum, tawa dan bagian-bagian bahagia kita bisa membuat orang lain ikut bahagia. Why not?

Walaupun kita tetaplah manusia biasa yang tak pernah lepas dari kesedihan-kesedihan.

Biarlah kesedihan-kesedihan itu mengajarkan kita untuk selalu memohon padaNya.

Heey, ingatlah kita tidak pernah sendirian. Skenario hebat kehidupan telah dituliskanNya. Mungkin kesedihan adalah caraNya mendekap kita lebih dekat.

aku berusaha untuk berdamai dengan kepergian dan kehilangan. mungkin aku saja yang terlalu egois, melihat dari sisi yang ditinggalkan, padahal ada senyum dari sisi yang pergi. heeey, kembali ku kembalikan pada Yang Maha Mengetahui, sehelai daunpun tak akan gugur tanpa ijin dariNya, sebutir biji dalam gelapnya bumi tak luput dari ilmuNya, begitupun semua yang terjadi yang diluar kendali kita, semua yang telah tertulis nyata jauh hari sebelum kita dilahirkan. ada bagian-bagian yang bisa kita usahakan untuk berjuang namun juga ada bagian-bagian yang mutlak itu adalah keputusan terbaikNya untuk kita. aku tahu, mungkin aku saja yang terlalu kerdil untuk memaknai rencana terbaikNya untukku. berulang kali kuyakinkan diri dan memahami, walaupun air mata ku sudah tak mampu lagi mewakili sedihku

Hmm.. ini bukan senyum kepalsuan, tak ada yang palsu, hanya saja sebuah pembelajaran untuk sebuah ketulusan. Semoga masih bisa berbahagia dengan rasa syukur padaNya.

Padang, 13 Desember 2014.
aku dengan semua kerinduanku untuk bercerita dengan Ayah. Tapi kupastikan Yah, aku akan selalu (belajar) menjadi anak Ayah yang ceria yang juga akan membuat orang lain bahagia.


.

Selasa, 04 November 2014

Aku Melihat Luka



Kau tak pernah tahu..
mozaik mana yang kembali tersusun di perputaran waktu
kau pun tak pernah tahu..
kedalaman hati diantara sederhana senyum
tak usah gemakan semua
karena ada luka disana
Dengan tatapannya, lihatlah aku tak tahu apa?
jika memang ada kedalaman yang menjatuhkan
maka tetaplah dalam diam
aku pun belajar menghapuskan
sebelum semua tertulis nyata
maka jangan tambahkan lagi gemanya
sebenarnya..
aku melihat luka..

Tentang Langit



Menerangi belahan bumi lain melalui langit yang tak pernah menjadi pagi. Percayalah, semua akan beredar tetap diorbitnya, tak ada yang terlewati. Dia Maha Pengatur Rencana Sempurna.

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya”. (QS Ya Sin : 40)

Suatu Hari Nanti



Suatu hari nanti..

Jika kamu memilihku karena kecantikan. Pasti itu akan sirna dan mungkin saja aku harus sangat repot bermake up, mungkin dengan begitu aku akan terlihat (sedikit) lebih cantik.

Jika kamu memilihku karena kepintaran, maka ketika kamu bertanya sesuatu yang aku tak tahu jawabannya maka bisa saja kau akan kecewa. Yaa.. tentu begitu karena aku bukanlah ensiklopedi yang serba ada.

Jika suatu hari nanti kamu memilihku karena aku ceria, lucu, pasti kamu juga akan merasa salah memilihku karena aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dari emosi sedih dan kemudia menangis. Maaf jika tak bisa selalu membuatmu tertawa.

Jika kamu memilihku karena aku adalah sahabat dekatmu, hei kita tak tau bagaimana nanti harus menghadapi masalah yang tak pernah kita hadapi di persahabatan kita. Ini tentang kita berdua. Ini jauh lebih kompleks. Ini perjalanan panjang yang tak mengenal kata “diam-diaman” lalu baikan lagi.

Jika kamu memilihku karena aku pandai memasak. Heeei, pasti nanti kamu akan berpikir ulang apakah aku adalah orang yang tepat ketika kamu sedang menyantap masakan koki terhebat.

Jikaaa…
Terlalu banyak jika yang tak mampu ku uraikan.

Tapi, suatu hari nanti…
Pilihlah aku jika dengan berjalan bersamaku, surga menjadi lebih dekat. Sediakan sebuah ruang dihatimu untuk menoleransi semua kekuranganku.
Akupun begitu.

Padang, 4 November 2014 | Sri Asrianty

Bertemukah? entahlah


Mungkin memang begitu..
Ada cerita yang telah berlalu bertemu lagi didimensi sekarang
Lalu mungkin ada saatnya juga cerita itu mencari jalan pulang untuk kembali kedimensi yang lalu
Apakah akan bertemu lagi didimensi masa depan?
Entahlah. Aku juga tak tahu jawabnya.
Pesanku  : tetaplah berdiri diposisi masing-masing untuk tidak melewati batas agar tidak ada yang pecah.